Visi, Misi dan Aktivitas Hidup

Yang ‘hebat’ dari manusia adalah bahwa ia memiliki  kebebasan. Kebebasan itu
mencakup pilihan untuk memiliki atau tidak memiki visi dan misi hidup;
mencakup pula pilihan untuk beraktivitas secara konsisten atau tidak konsisten
dengan visi-misi (jika memiliki). Kebebasan ini bukan tanpa ’pembenaran’. Salah
satu ayat al-Qur’an memperlihatkan ajaran yang terkesan amat liberal yang kirakita berarti: ’Anda bebas: silakan pilih apapun yang anda mau; tetapi ingat,
semuanya memiliki konsekuensi’. Artikel ini menyajikan pandangan sekilas visimisi hidup penulis serta aktivitas hidup yang dianggapnya konsisten. Artikel ini
tentunya hanya berguna bagi mereka yang memiliki visi-misi hidup sekalipun
belum berupaya merumuskannyai
.

Tujuan Hidup: Inna lillah…
Ketika memperoleh kabar ada yang meninggal seorang  muslim biasanya
mengucapkan kalimat inna lillah wa inna ilaihi roji’un. Kalimat itu berasal dari Ayat
156 Surat 2 yang terjemahanii
 lengkapnya kira-kira sebagai berikut:
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka berkata
“inna lillah wa inna ilaihi roji’uniii
(sesungguhnya kami milik Allah
dan kepada-Nya-lah kami kembali.)
Sebagai catatan, kata ‘yaitu’ dalam kurung merujuk pada sikap orang sabar ketika
ditimpa berbagai macam musibah atau cobaan sebagaimana dikemukakan pada
ayat sebelumnya.
Penulis melihat kalimat inna lillah … menegaskan sesuatu yang sangat mendasar
yaitu asal dan tujuan hidupiv
: Allah swt, Sumber-Tujuan-Segala,  Alpha-Omega.
Dengan demikian, drama kehidupan sebenarnya tidak lebih dari kisah perjalananpulang-kembali ke Tujuan-Segala. Wallahu’alam
Hemat penulis, ketiadaan visi-misi hidup terkait dengan ke-kurang-percaya-an
atau ke-tidak-tahu-an mengenai tujuan hidup. Dalam konteks ini nasihat klasik ini
mungkin relevan: Kita harus percaya agar mengetahui; kita harus mengetahui
agar percaya.  2
Bagi mereka yang meyakini tujuan hidup maka terbukalah kesempatan untuk
menetapkan dan merumuskan visi, misi dan aktivitas hidup. Bagi penulis, dengan
kerangka-pikir  innâlillah, visi-misi-kegiatan hidup dapat dirumuskan secara
sederhana sebagai berikut:
Visi : Tiba dengan selamat di tempat-kepulangan
dengan  penuh suka-cita dan disambut baik.
Misi : Mengetahui arah-pulang yang benar, senantiasa
berada dalam jalur yang benar arahnya, serta
‘memuluskanv
’ perjalanan-pulang.
Aktivitas : Menyiapkan bekal perjalanan-pulang yang relevan
serta dalam jumlah yang memadai.
Itulah salah satu (bukan satu-satunya) rumusan visi-misi-aktivitas
vi
 hidup yang
mungkin berdasarkan kerangka pikir  inna lillah… Bagian selanjutnya artikel ini
mrnyempurnakan rumusan itu dengan merujuk pada sumber yang dinilai
kredibel.
Visi Hidup: Radiyah-Mardiyyah
Rumusan visi hidup sebagaimana disajikan di atas hemat penulis sejalan dengan
kandungan empat ayat terakhir Surat Al-Fajar yang terjemahannya
vii
 kira-kira
sebagai berikut:
Wahai jiwa yang tenang!
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
radiyatan mardiyyah ---yang rida dan diridai-Nya
Maka masuklah ke dalam golongan hambahamba-Ku
Dan masuklah ke dalam surga-Ku (89:27-30).
Ayat 27 menegasakan yang berhak memperoleh undangan memasuki surga-Nya
adalah jiwa, bukan sembarang jiwa, tetapi ‘jiwa yang tenang’, nafsul muthmainnah.
Jiwa tenang itu akan memasuki surga-Nya dengan penuh suka-cita (radiayah) dan
‘disambut baik’ (mardiyyah). Tetapi kita mengetahui secara pasti ini bukan
pekerjaan ‘enteng’. Untuk mencapai ketenangan jiwa  diperlukan upaya keras 3
pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) yang membosankan, melelahkan dan bahkan
menyakitkan bagi ego.
 Bagi muslim kebanyakan, memasuki surga-Nya dalam keadan radiyatan
mardiyyah akan dapat dicapai kelak di akhirat. Bagi sebagian sufi, hal itu konon
dapat dicapai sekarang, di sini, di dunia ini. Itulah barangkali alas an seorang ahli
yang mendefinisikan sufi sebagai orang yang ‘tidak sabar’. Wallâhu ‘alam.
Misi Hidup: Ibtigâa Ridwânillah
Suatu misi yang ‘baik’ tentu sejalan atau konsisten dengan visi atau nilai dasar
yang ditetapkan sebelumnya. Jika visi hidup râdiyatan mardiyyah maka misi hidup
yang konsisten adalah mencari rida Allah swt, ibtigâa ridwânillah. Rumusan misi
ini dapat ditemukan dalam potongan Ayat 27 Surat 57.
Yang menarik untuk dicatat adalah potongan ayat itu dikemukan ketika teks suci
‘mengkritik’ praktek pengikut Isa a.s yang dinilai  mengada-ada. Agar
memperoleh gambaran menyeluruh, berikut ini disajikan terjemahan ayat yang
dimaksudviii
:
Kemudian kami susulkan rasul-rasul kami mengikuti jalan
mereka dan kami susulkan (pula) Isa putra Maryam: dan kami
jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang
yang mengikutinya. Mereka mengada-adakan  rahbaniyyahix
,
padahal kami tidak mewajibkannya kecuali mereka (yang kami
wajibkan hanyalah) mencari keridaan Allah, tetapi tidak mereka
pelihara dengan semestinya, maka kepada orang-orang yang
beriman di antara mereka kami berikan pahalanya, dan banyak di
antara mereka yang fasik.
Aktivitas Hidup: Taslim secara sempurna
Bagi penulis, aktivitas hidup yang konsisten dengan visi dan misi hidup
sebagaimana dikemukakan sebelumnya dapat dinarasikan sebagai  taslim secara
sempurna. Dalam konteks ini taslim berarti ber-Islam atau berserah diri kepada
aturan Allah swt, sempurna berarti penyerahan dirinya menyeluruh atau  kaffah
dalam arti mencakup semua pilar ISLAMx
 (Iman, Islam dan Ikhsan) secara
seimbang. Singkatnya, kata sempurna disini berarti mencakup semua unsur harus 4
dicakup dan komposisi muatan unsur-unsurnya seimbang. Kata ‘seimbang’ di sini
menurut hemat penulis sangat perlu.
Penutup
Agar mudah dipahami secara tepat, uraian mengenai visi-misi-aktivitas hidup
sebagaimana diuraikan sebelumnya dapat disajikan secara visual dalam bentuk
rumah-cerita (story house) berikut.
Rumah-Cerita Visi-Misi dan Aktvitas Hidup:



Misi: Ibtigâa mardâtillah (27:57)
Mengetahui arah-pulang yang benar, senantiasa berada dalam jalur yang benar
arahnya, serta ‘memuluskan perjalanan-pulang
Kegiatan: Taslim secara sempurna
Menyiapkan bekal perjalanan-pulang yang relevan serta dalam jumlah yang
memadai
Iman Islam Ikhsan
Keyakinan utuh
terhadap semua apa
yang harus diyakini
berdasar kejujuran
intelegensi
Kepatuhan total
melakukan semua apa
yang harus dilakukan
berdasar ketulusan
kehendak
Kebajikan operatif yang
menyempurnakan
kualitas keimanan dan
keislaman
Catatan: Deskripsi Iman, Islam dan Ikhsan diambil dari “Narasi Induk Da’wah’
yang dapat diakses dalam situs ini.”
Rumusan visi-misi-aktivitas hidup telah dirumuskan. Tantangannya, bagaimana
mengamalkan secara konsisten apa yang telah dirumuskan itu.  Walillâhil
musta’ânu… @
Visi: Râdiyatan mardiyyah (89:28)
Tiba dengan selamat di tempatkepulangan dengan  penuh suka-cita 5
Referensi
Al-Mizan, Al-Qur’an disertai Terjemahan & Transelasi, 2008, PT Mizan Pustaka
                                             
i
 Merumuskan apa yang akan dikerjakan konon penting tetapi mengerjakan secara konsisten apa
yang dirumuskan mungkin lebih penting. Jadi, saran  penulis pembaca disarankan untuk
merumuskan sendiri visi-misi hidup ‘terbaik’ menurut pembaca.
ii
 Dikutip dari Al-Mizan termasuk catatan kakinya.
iii
 Kalimat ini dinamakan kalimat  istirjâ’ (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan
menyebutnya pada waktu ditimpa musibah, baik besar atau kecil.
iv
 Persoalan mengenai tujuan hidup merupakan topik perdebatan filsofis berkepanjangan sejak era
Socrates sampai kini yang konon belum juga memuaskan para pemuja akal.
v
 Memuluskan disini berarti mensikapi urusan material secara tepat. Semangat berlebihan untuk
memenuhi keinginan ego yang tak-terbatas pasti membebani bahkan berpotensi melupakan jalanpulang sehingga perjalanan menjadi tidak mulus.
vi
 Visi konon dapat dikatakan sebagai  pandangan-jarak jauh yang ‘menuntun’ misi; aktivitas,
memastikan misi tercapai. Visi ditetapkan setelah tujuan ditetapkan sebelumnya. Jika diambil
perjalanan sebagai analogi maka tujuan perjalanan harus sudah ditetapkan. Visinya adalah tiba di
tempat tujuan dengan selamat; misinya, memastikan perjalanan aman serta mengarah ke tempat
tujuan. Kegiatan mencakup semua hal yang diperlukan dalam perjalanan itu. Jika perjalanan
menggunakan kendaraan mobil, misalnya, maka ‘kegiatannya’ mencakup mengisi bahan bakar
dalam jumlah yang cukup, mengatur agar kendaraan tetap berada dalam jalur benar- aman,
mengatur kecepatan, mengistihatkan kendaraan jika perlu, dan seterusnya.
vii
 Dikutip dari Al-Mizan
viii
 Dikutip dari Al-Mizan termasuk catatan kakinya.
ix
 Tidak beristri atau tidak bersuami dan mengurung diri dalam biara
x
 Lihat ‘Narasi Induk Da’wah’ yang dapat diakses dalam situs ini

0 komentar:

Posting Komentar